JEJAK FAKTA SIGI, -Setelah melalui proses pembangunan dan sejumlah tahapan teknis, jembatan gantung yang menghubungkan Desa Kalukubula, Kecamatan Biromaru, dengan Desa Tinggede, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, akhirnya rampung pada 2025.
Kehadiran jembatan ini menjadi kabar penting bagi masyarakat di kedua wilayah. Infrastruktur tersebut diharapkan tidak hanya mempermudah akses warga, tetapi juga memperkuat konektivitas antardesa serta menunjang aktivitas sosial dan perekonomian masyarakat.
Di balik rampungnya pembangunan tersebut, proses pengerjaan ternyata membutuhkan waktu yang cukup panjang. Sejumlah pekerjaan teknis harus dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi lapangan, termasuk pekerjaan terkait sungai, jalan, aliran air, hingga mobilisasi material dan peralatan konstruksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Sigi, Ir. Edy Dwi Saputro, ST., MM, mengatakan proses pekerjaan membutuhkan waktu karena terdapat sejumlah tahapan yang harus diselesaikan secara berurutan.
“Waktu yang kami miliki cukup panjang. Kami melakukan proses pekerjaan secara bertahap, termasuk perbaikan sungai, perbaikan jalan, dan pengaturan aliran air sungai. Ditambah lagi waktu berproses sampai pembangunan selesai,” ujar Edy.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Herman, menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam pelaksanaan pekerjaan berkaitan dengan pengadaan material dan mobilisasi peralatan.
Material baja yang digunakan untuk rangka jembatan, kata Herman, harus didatangkan dari Surabaya karena harus memenuhi spesifikasi teknis yang telah ditentukan dalam pekerjaan.
Sementara itu, peralatan bor pile yang digunakan untuk pekerjaan pondasi juga harus didatangkan dari luar daerah.
“Bahan baja didatangkan dari Surabaya sesuai spek. Sementara untuk bor pile, alatnya didatangkan dari Makassar,” kata Herman kepada media, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat beberapa tahapan pekerjaan harus menunggu hingga material maupun peralatan yang dibutuhkan tersedia di lokasi.
“Material rangka baja mulai didatangkan dan dirangkai pada Februari. Kita menunggu alat bor pile. Jadi memang ada tahapan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sebelum alat tersebut tersedia,” jelasnya.
Herman juga mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan pekerjaan terdapat tambahan waktu sekitar 50 hari kerja.
Penambahan waktu tersebut diberikan untuk menyelesaikan tahapan pekerjaan dengan mempertimbangkan kebutuhan teknis dan kondisi aktual di lapangan.
Ia menegaskan bahwa setiap tahapan pekerjaan harus diselesaikan sesuai kebutuhan teknis agar pembangunan dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan infrastruktur yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Di tengah adanya sorotan terhadap pembangunan jembatan, Herman menilai pengawasan terhadap pekerjaan pemerintah merupakan hal yang wajar. Namun, ia meminta agar setiap informasi yang disampaikan kepada publik terlebih dahulu berdasarkan data dan kondisi faktual.
“Kalau memberikan informasi, harus berdasarkan data yang akurat. Jangan sampai informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya,” tegas Herman.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penegasan agar setiap informasi mengenai pembangunan infrastruktur pemerintah disampaikan secara objektif dan tidak terlepas dari fakta di lapangan. Jembatan Sangat Membantu Aktivitas Masyarakat
Sementara itu, warga Desa Tinggede, Amir, menilai keberadaan jembatan tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, jembatan menjadi akses penting bagi warga dari kedua wilayah untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari.
Dengan adanya jembatan penghubung tersebut, masyarakat berharap mobilitas antara Desa Kalukubula dan Desa Tinggede semakin mudah dan lancar.
“Jembatan ini sangat membantu masyarakat karena akses menjadi lebih mudah, terutama bagi warga yang beraktivitas dari Tinggede menuju Kalukubula maupun sebaliknya,” ungkap Amir.
Kini, setelah pembangunan rampung, perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada selesainya pekerjaan, tetapi juga bagaimana jembatan tersebut dapat dimanfaatkan dan dijaga secara bersama-sama.
Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat menjaga keberadaan infrastruktur tersebut agar tetap berfungsi dengan baik dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Jembatan Kalukubula–Tinggede pada akhirnya bukan sekadar penghubung dua wilayah, tetapi diharapkan menjadi bagian penting dalam membuka akses, memperlancar mobilitas, dan mendorong aktivitas masyarakat di Kabupaten Sigi.
(Enalpalu)










